Akomodasi penilaian dalam  pendidikan inklusif dapat diartikan sebagai perubahan berupa penyesuaian/adaptasi dan modifikasi yang diberikan untuk siswa/peserta didik berkebutuhan khusus dalam penilaian hasil pembelajaransesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

Terdapat empat alternatif dalam menilai anak berkebutuhan khusus di kelas inklusif, yaitu :

1. Penilaian sesuai dengan standar dan dengan cara yang sama dengan siswa lain.

2. Penilaian sesuai dengan standar namun disertai akomodasi tertentu yang disesuaikan dengan  kondisi dan kebutuhan spesifik anak.

Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan sebagai akomodasi dalam penilaian, yaitu :

        1. Penyampaian soal, guru menyampaikan soal dengan mengulang instruksi, dengan membacakan soal.
        2. Cara menjawab soal, misal: siswa tidak harus menuliskan jawaban namun ia dapat menandai jawaban yang sesuai di buku
        3. Tempat, misal untuk siswa dengan perhatian terbatas, dapat mengikuti  ulangan di ruang terpisah yang agak sepi.
        4. Waktu, pemberian waktu yang lebih banyak dengan jeda untuk istirahat.

3. Penilaian alternatif dengan standar kesulitan yang sama dengan siswa lain.

Penilaian tidak selalu menggunakan lembar soal yang harus di jawab, namun perkembangan belajar anak dapat diketahui dari observasi guru, contohnya guru dapat menilai kemampuan siswa dengan melihat pekerjaan dan aktivitas selama pembelajaran .

4. Penilaian alternatif dengan standar kesulitan yang disesuaikan dengan kemampuan anak.

Penilaian ini digunakan untuk anak yang tidak mampu mengikuti penilaian yang sudah ditetapkan meskipun dengan akomodasi tertentu. Penilaian ini banyak digunakan untuk anak yang mempunyai keterbatasan kognitif.

 

Contoh akomodasi penilaian yang digunakan dalam pembelajaran matematika di kelas inklusif :

1. Organization (pengorganisasian/pengaturan).

Misalnya dengan penggunaan petak-petak dengan garis bantu yang membantu anak dalam proses mengerjakan soal berhitung;

2. Highlighting (Hal yang penting).

Dalam penghitungan yang memerlukan penyimpanan pada puluhan atau ratusan dapat dibantu dengan memberi tanda tertentu;

3. Fact charts (peta/grafik fakta).

Keterbatasan memori pada ABK dapat dibantu dengan tabel perhitungan. Untuk menghindari ketergantungan, perhitungan yang sudah dihafal dapat diblok hitam

4. Calculators (Kalkulator).

Penggunaan kalkulator mempunyai fungsi hampir sama dengan tabel perhitungan. Ketergantungan anak dapat diantisipasi dengan aturan penggunaan kalkulator yang dibatasi, misal: hanya untuk mengecek hasil pekerjaan

5. Manipulatives (menggerakkan/memainkan).

Perlu adanya penandaan pada simbol operasi hitung maupun pemberian lingkaran pada perintah/tugas dalam soal dapat digunakan untuk mengingatkan anak

6. Time management (Pengelolaan waktu).

Penetapan waktu dapat dipergunakan untuk mengerjakan soal oleh anak dan dapat membantu mereka mengelola waktu dalam mengerjakan tugas

7. Class presentations (presentasi kelas).

Dalam presentasi materi,  penggunaan media visual maupun auditori dapat membantu anak memahami materi dari berbagai sensori.

8. Assignments (penugasan).

Dalam pemberian tugas, pengurangan kualitas maupun kuantitas soal dapat dilakukan. Pemberian lembar soal yang dipenuhi oleh gambar dapat meningkatkan minat anak (kecuali pada anak dengan gangguan perhatian)

9. Assessments (asesmen).

Pelaksanaan asesmen dalam pengerjaan ulangan dapat dimodifikasi dengan observasi langsung pada saat mengerja -kan ulangan sehingga diketahui pemahaman tentang materi, bertanya langsung ke siswa.

Penggunaan akomodasi (1) – (9) juga dapat dilakukan saat anak mengerjakan ulangan.

Fleksibilitas dalam pelaksanaan penilaian hasil belajar ABK, juga dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:

  1. Penulisan daftar tugas bagi siswa yang belum bisa menulis.
  2. Pembuatan PR yang berbeda  dari teman-temannya (disesuaikan kondisi dan kemam-puan siswa).
  3. Pemberian tugas lebih sedikit daripada teman yang lain
  4. Ujian/ulangan dilakukan dengan memberi pertanyaan langsung ke siswa.
  5. Pemberian soal yang lebih mudah dibandingkan dengan siswa lain.
  6. Pemberian bantuan dalam mengerjakan tugas, misalnya dengan menjelaskan cara pengerjaan soal/tugas yang harus dijawab/dikerjakan.
  7. Pembacaan soal untuk siswa yang belum bisa membaca, dan yang menyandang tunanetra.

Dengan demikian fleksibilitas dalam pelaksanaan penilaian hasil belajar ABK dapat dilakukan oleh guru dengan memberikan akomodasi dalam hal-hal tertentu, sehingga prestasi belajar dari siswa ABK bersangkutan dapat diketahui secara tepat dan akurat.