Menurut Robert M. Smith (2002) asesmen adalah suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan anak, yang mana hasil keputusannya dapat digunakan untuk menentukan layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran.

Dalam konteks pendidikan asesmen berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan dalam pembelajarannya. Dengan perkataan lain, asesmen digunakan untuk menemukan dan menetapkan di mana letak masalah yang dihadapi serta apa yang menjadi kebutuhan belajar seorang anak. Berdasarkan informasi itulah seorang guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realistis dan obyektif atau sesuai dengan kenyataan tentang anak tersebut.

Sedangkan menurut Robb, Benardoni, dan Johnson (1972) dalam Robert M. Smith tujuan dilakukannya asesesmen diantaranya :

  1. Untuk menyaring dan mengidentifikasi anak
  2. Untuk membuat keputusan tentang penempatan anak
  3. Untuk merancang program individualisasi pendidikan
  4. Untuk memonitor kemajuan anak secara individual
  5. Untuk mengevaluasi keefektifan program

Dalam penyelenggaraan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus, secara garis besar asesmen dapat dikelompokkan menjadi dua (Yusuf, M.2005), yaitu:

  1. Asesmen akademik menekankan pada upaya mengukur pencapaian prestasi belajar siswa. Pada asesmen akademik aspek yang diases adalah bidang-bidang kemampuan dan keterampilan akademik seperti keterampilan membaca, menulis, dan berhitung atau matematika.
  2. Asesmen perkembangan yang mengutamakan pada aspek-aspek yang berkaitan dengan keterampilan prasyarat yang diperlukan untuk keberhasilan bidang akademik seperti aspek perkembangan kognitif, perkembangan bahasa dan komunikasi , perkembangan motorik, dan perkembangan persepsi
    Untuk mendapatkan data yang akurat dari siswa yang akan diases diperlukan instrumen yang memadai. Rochyadi & Alimin (2005) mengemukakan bahwa ada beberapa langkah yang harus ditempuh guru dalam penyusunan instrumen asesmen. Langkah penyusunan instrumen yang dimaksud adalah:

    1. menetapkan aspek dan ruang lingkup yang akan diases,
    2. menetapkan ruang lingkup, yaitu memilih komponen mana dari bidang yang akan diakses,
    3. Menyusun kisi-kisi instrumen asesmen, dan
    4. Mengembangkan butir soal berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. Berikut penjelasan masing-masing langkah.

Metode dan Teknik Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus
Seperti telah diuraikan di atas bahwa metode atau cara yang dapat digunakan dalam melaksanakan asesmen antara lain:

  1. Observasi, pengamatan yang dilakukan terhadap cara belajar siswa, tingkah laku yang muncul pada saat siswa belajar, dan sebagainya
  2. Tes atau evaluasi hasil belajar, diperoleh dengan cara memberikan tes pada setiap bidang pengajaran.
  3. Wawancara, dilakukan terhadap orang tua, atau keluarga, dan siswa

Terdapat beberapa langkah/prosedur pelaksanaan asesmen, yaitu

  1. Menentukan bidang skop dan urutan keterampilan yang akan diajarkan
  2. Memilih tingkah laku yang akan dinilai
  3. Memilih kegiatan evaluasi
  4. Pengadministrasian alat evaluasi
  5. Pencatatan penampilan siswa
  6. Penentuan tujuan pengajaran jangka panjang dan jangka pendek.

Asesemen Perkembangan

    1. Asesmen Perkembangan Kognitif
      Asesmen keterampilan kognitif dasar merupakan salah satu jenis asesmen yang digunakan untuk menggali informasi tentang keterampilan kognitif dasar yang harus dikuasai siswa sebelum siswa yang bersangkutan mempelajari bidang akademik secara formal, misalnya membaca, menulis, dan matematika.
    2. Asesmen Perkembangan Baahasa
      Tujuan asesmen perkembangan bahasa dalam bahasan ini adalah untuk menghimpun data atau informasi tentang aspek-aspek perkembangan bahasa yang meliputi kemampuan memahami makna kata, kemampuan untuk mengekspresikan diri secara verbal, dan kemampuan dalam pelafalan (artikulasi), sehingga dapat membantu guru dalam memahami tingkat dan kemampuan belajar bahasa anak. Untuk itu, perlu dijelaskan ruang lingkup kemampuan berbahasa seseorang.
    3. Asesmen Perkembangan Motorik
      Perkembangan motorik adalah kemampuan dalam melakukan gerak, baik yang bersifat gerakan kasar, gerakan halus, dan keseimbangan.
    4. Asesmen Perkembangan Persepsi
      Adapun ruang lingkup bidang perkembangan persepsi terdiri dari tiga komponen besar (Abdurahman, M. 1995) yaitu: (1) persepsi auditoris yang meliputi kesadaran fonologis, diskriminasi auditoris, ingatan auditoris, urutan auditoris, dan perpaduan auditoris; (2) persepsi visual, yang meliputi hubungan keruangan, diskriminasi visual, diskriminasi bentuk dan latar, visual closure, mengenal obyek, dan (3) persepsi heptik yang meliputi persepsi taktil dan kinestetik. Berikut penjelasan singkat mengenai masing-masing jenis persepsi.

Asesmen Akademik

    1. Asesmen Keterampilan Membaca
      Asesmen keterampilan membaca yang dimaksud dalam bahasan ini adalah suatu proses dalam memperoleh data tentang keterampilan seorang siswa dalam melakukan aktivitas membaca, baik dalam hal ketepatan membaca maupun dalam memahami isi teks yang dibacanya, sebagai bahan bagi guru dalam menyusun program dan intervensi pembelajarannya.
    2. Asesmen Keterampilan Menulis
      Asesmen keterampilan menulis adalah suatu proses dalam memperoleh informasi tentang penguasaan atau keterampilan menulis yang telah dimiliki siswa saat ini serta untuk menemukan kesulitan hambatan dalam mempelajari keterampilan menulis yang dialaminya.
    3. Asesmen Keterampilan Berhitung
      Asesmen matematika yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah suatu proses perolehan data atau informasi tentang penguasaan keterampilan matematika seorang siswa sebagai bahan dalam menyusun suatu program pembelajaran.

Referensi :

Sundari, Tjutju dan Abdurahman, Maman. 2013. Asesemen Anak Berkebutuhan Khusus. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia